Langsung ke konten utama

Perjuangan Orang Tua


Tak cukup hanya selembar kertas untuk menceritakan perjuangan orang tua kita. Rasanya selalu haru ketika mengingat kebaikan mereka kepada anaknya. Memang benar kasihnya sepanjang masa. Ibu dan Bapak tidak bisa dibandingkan. Ibu adalah seseorang yang mencintai kamu sampai kamu menutup mata. Bapak adalah seseorang yang mencintai kamu tanpa ekspresi di wajahnya. Ibu menjaga kamu agar tidak jatuh, sedangkan bapak menjaga kamu untuk bangkit setelah terjatuh.

Aku selalu terharu ketika diantarkan ke terminal, bersalaman dan ditunggu sampai bus yang aku tumpangi berangkat. Ditengah kesibukannya, bapak selalu menyempatkan untuk mengantarkanku. Ibu selalu menyiapkan oleh – oleh untuk ku bawa balik rantau. Rasanya sedih ketika ingat usia mereka sudah semakin tua, namun apa yang sudah aku berikan kepadanya? Aku jarang pulang ke rumah, hanya bertanya kabar melalui telepon dan whatsapp. Aku tahu bahwa Bapak dan Ibu sering merindukanku. Namun mereka jarang mengatakannya. Semakin kesini, bapak dan ibu jarang memberi kabar dahulu. Bukan mereka tak peduli, namun takut mengganggu kerja anaknya.

Bapak, Ibu....
Kami sebagai anak tidak akan pernah merasa terganggu.
Terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah engkau berikan selama ini.
Sebagai anak pertama aku tahu persis keluargaku ketika mengalami masa susah sampai sekarang.
Dengan keadaan yang pas – pas an mereka selalu bisa memenuhi segala kebutuhanku.
Aku tahu kerja keras seorang Bapak, panas dan hujan tetap dilalui untuk mencari nafkah.
Aku tahu betapa pedulinya Ibu memastikan kecukupan gizi pada makananku dan kesehatanku.
Aku ingat sekali kita dulu sering pindah rumah, untuk mandi pun harus numpang di sumur orang.
Bapak selalu menggendong untuk memandikanku, ibu menyiapkan sarapanku, dan aku berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda pemberian saudaraku.
Aku tidak pernah sedih, aku bersyukur karena dari kecil sudah diajarkan untuk mandiri.
Bapak selalu sabar dalam mendidik anak – anaknya, tidak pernah berkata kasar, dan jarang sekali marah. Namun, bapak akan sangat marah ketika ada orang lain yang membuat anaknya menangis.
Terkadang aku ragu dengan kemampuanku, namun bapak lah orang pertama yang selalu menyakinkan bahwa aku bisa dan mampu melewati itu.
Ibu adalah sosok yang selalu bisa mengimbangi dan melengkapi Bapak. Terpaut hampir 10 tahun perbedaan usia keduanya, aku sering diceritakan bagaimana cerita cinta keduanya saat muda.
Mungkin saat aku diusia Ibu, aku belum tentu bisa menjalani kehidupan berkeluarga seperti yang sudah Ibu lakukan. Ibuku sangat cerdas dan semangat belajarnya akan hal baru sangat tinggi.
Ibu memang bukan wanita karir. Dari dulu ibu sebagai ibu rumah tangga. Bersama ibu lah, aku belajar banyak hal di rumah. Terima kasih bu sudah menemaniku dari kecil sampai sekarang. Terima kasih sudah mendidik anak – anakmu dengan sangat baik, memperhatikan tumbuh kembang, dan memastikan budi pekerti dari anakmu tidak menyakiti orang lain.
Diantara saudaranya, Ibu adalah wanita yang tabah dan sering mengalah.
Beliau yakin bahwa Allah tidak pernah tidur dan semua akan ada balasannya.
Aku masih ingat dulu Ibu juga mengisi kegiatan di rumah dengan berjualan es dan menerima pesanan roti. Aku pun tak pernah malu untuk menitipkan es di kantin sekolah.
Sampai tiba saatnya kita bersama – sama bisa menikmati hasilnya dan bisa melewati keadaan tersebut dengan sabar.
Memang semuanya butuh proses, tidak ada yang instan. 
Yang terpenting kita harus selalu berusaha dan berdoa.

Orang tua adalah motivasi terbesar dalam hidupku.
Untuk menjadi lebih baik dan selalu membanggakan.
Untuk tidak cepat mengeluh dengan keadaan yang tidak menyenangkan.
Untuk hidup hemat, selalu rendah hati, dan mampu beradaptasi dengan segala keadaan.
Terima kasih Bapak dan Ibu, semoga aku bisa berbakti kepadamu.

Tulisan singkat ini ditulis ketika aku sedang balik ke kota rantau.
Di dalam bus sambil terharu,
Setelah hari raya idul fitri 1440 H.
Juni 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2019

Halo, selamat pagi. Sesuai permintaan dari teman - teman di instagram, aku akan sharing mengenai beasiswa unggulan Kemendikbud. Tenaaang, rileks, baca dengan santai yaaa, karena penjelasannya mungkin agak panjang hehe. Disclaimer : semua yang aku tulis disini based on my experience  yaa, jadi mungkin ceritanya berbeda dengan para awardee yang lainnya. Yang pertama alasanku mengapa memilih untuk daftar beasiswa unggulan diantara banyaknya beasiswa S2 yang lainnya seperti beasiswa LPDP, beasiswa tanoto, dll. Jadi, ini adalah pengalamanku daftar beasiswa yang pertama untuk kuliah S2. Sebelum mendaftar beasiswa, aku sudah menjalani proses perkuliahan semester 1 di Universitas Brawijaya jurusan Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan (PSLP) atau biasanya disebut Ilmu Lingkungan. Nah, pada saat awal masuk perkuliahan, beasiswa unggulan baru buka pendaftaran. Baru terbesit dipikiranku untuk mencoba beasiswa ini, setelah itu aku baca - baca persyaratan di web beasisw...

Menikmati Konsekuensi

Setelah menjalani perkuliahan selama 2 minggu, Aku baru tahu rasanya fokus pada dua hal, Yang memiliki tantangan berbeda. Kuliah sambil bekerja. Berangkat pagi, pulang malam. Ada tugas kuliah, ada lagi tugas di kerjaan. Aku berpikir, apakah aku bisa terus - terusan seperti ini? Apakah aku mampu? Mengurangi jatah tidur lebih banyak, Harus bisa membagi waktu secara detail. Awalnya memang tak mudah, Butuh proses, butuh penyesuaian. Dengan keadaan dan kondisi badan. Semangat ya tubuhku, Mulai sekarang kau akan bekerja lebih keras dari biasanya, Otak akan dituntut berpikir lebih banyak, Mata yang akan menatap buku dan layar monitor lebih lama, Kaki yang akan berjalan lebih jauh dan lebih cepat, Tangan yang akan menulis dan mengetik lebih banyak, Mengurangi jam nongkrong dan berpergian, Weekend untuk istirahat tidur panjang. Mari berteman dengan kegiatan multitasking. Inilah konsekuensi. Konsekuensi itu bukan hukuman. Konsekuensi perlu ...

Teman Hidup

Untuk kamu yang sudah menunggu tulisanku. Hai, rasanya sekarang aku tiap hari ingin menyapamu. Sore ini cuacanya dingin, hujan lebat, dan aku sengaja pulang kantor telat. Kebetulan nanti malam adalah malam tahun baru 2019. Ada sesuatu yang besar dipikiran, aku harus segera mengambil keputusan. Kalo nggak sekarang, kapan lagi? Itulah beberapa kata yang terbesit dibenakku saat itu. Jauh sebelum sore itu, aku sudah mengalami kebimbangan. Apakah aku terus – terusan seperti ini? Kadang aku capek hidup sendiri, takut kalo gak ketemu orang yang tepat, tapi setelah aku lihat – lihat ternyata ada juga yang mendekat hehe. Akhirnya aku menemukanmu. Seseorang yang mungkin jawaban dari doa yang sudah aku panjatkan. Jawaban diantara kebimbangan. Jawaban diantara beberapa pilihan. Kalo ditanya apa alasannya, aku tak bisa menjawab dan menjelaskan. Pertanyaan ini susah kayak soal ujian :D Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah pernah mendekat. Sudah banyak direpotkan, pernah mengajak jal...