Langsung ke konten utama

Postingan

Dua Puluh Tiga

Tepat 23 tahun lalu, aku dilahirkan ke bumi. Dengan segala rasa syukur aku masih bisa merasakan nikmat dariMu, hingga detik ini. Perjalananku masih sangat singkat. Dan kontribusiku untuk negara belum banyak. Tapi aku ingin terus belajar dan bermanfaat untuk banyak orang. Aku mencoba memahami kehidupan. Hubungan timbal balik dengan lingkungan. Semua akan saling terkait dan mempengaruhi. Tinggal bagaimana kita menempatkan diri. Aku mendapat banyak ucapan, doa, dan kejutan. Yang paling spesial tentu dari orang tua, teman hidup, dan para sahabat. Terima kasih ya, sudah membuatku bahagia. Semoga doa baik kembali ke kalian juga. Terima kasih banyak sudah banyak mensupport apa yang ku lakukan. Dan menjadi gerbang terdepan saat aku ingin berhenti dan balik kanan. Tidak banyak harapan dan to do list yang aku tulis. Aku akan menjalani kehidupan seperti air yang mengalir, Namun bukan hanya mengalir tenang, Sesekali mungkin akan menampakkan derasnya, Agar segera sampai ke tujua...

Menikmati Konsekuensi

Setelah menjalani perkuliahan selama 2 minggu, Aku baru tahu rasanya fokus pada dua hal, Yang memiliki tantangan berbeda. Kuliah sambil bekerja. Berangkat pagi, pulang malam. Ada tugas kuliah, ada lagi tugas di kerjaan. Aku berpikir, apakah aku bisa terus - terusan seperti ini? Apakah aku mampu? Mengurangi jatah tidur lebih banyak, Harus bisa membagi waktu secara detail. Awalnya memang tak mudah, Butuh proses, butuh penyesuaian. Dengan keadaan dan kondisi badan. Semangat ya tubuhku, Mulai sekarang kau akan bekerja lebih keras dari biasanya, Otak akan dituntut berpikir lebih banyak, Mata yang akan menatap buku dan layar monitor lebih lama, Kaki yang akan berjalan lebih jauh dan lebih cepat, Tangan yang akan menulis dan mengetik lebih banyak, Mengurangi jam nongkrong dan berpergian, Weekend untuk istirahat tidur panjang. Mari berteman dengan kegiatan multitasking. Inilah konsekuensi. Konsekuensi itu bukan hukuman. Konsekuensi perlu ...

Happy Birthday to You

Selamat pagi, kamu. Ku yakin kamu baru saja membuka mata. Gimana tidurmu semalam? Nyenyak kan? Atau sebelum tidur kamu sempat berpikir bahwa aku lupa hari ulang tahunmu? Tenang, aku hanya pura – pura lupa hehe. Coba duduk sebentar. Bayangkan aku sedang di depanmu. Aku cuma mau mengucapkan, Selamat tanggal 22 Juli, Mas. Selamat bertambah usia. Selamat bertambah tua. Semoga jiwamu tetap muda. Dua puluh lima tahun yang lalu, Kamu baru saja dilahirkan. Aku ingin berterimakasih pada Ibumu, Yang telah melahirkan kamu. Aku ingin berterimakasih pada Bapakmu, Yang telah mendidik kamu. Beberapa tahun yang lalu kita hanya sebatas teman, Jarang bertemu dan jarang bertegur sapa. Kita sibuk dengan urusan masing – masing, Hingga pada akhirnya kita saling dipertemukan. Dengan waktu yang tak pernah direncanakan. Terima kasih Tuhan. Engkau sudah mempertemukan. Terima kasih semesta. Teman hidupku selalu kau jaga. Memang hari kelahiran bukan ...

Jarak

Karena jarak, kita jadi terpisah.  Karena jarak, kita jadi jauh. Kadang aku benci jarak. Karena jarak, rindu semakin sunyi. Namun, dalam tulisan ini Aku ingin berterimakasih pada  jarak , Karenanya kita saling sabar merindu. Aku berterimakasih pada waktu, karenanya kita menghargai setiap pertemuan yang telah lama ditunggu . Malam ini aku menulis dengan perasaan campur aduk. Penuh emosional, haru, sedih, dan merasa ada yang hilang. Berat sekali rasanya. Jika di logika, tak akan pernah cukup 4 hari untuk menuntaskan rindu. Selama 4 hari bertemu, kami sangat merasa quality time. Rasanya dekat dan memiliki. Kami mengeluarkan segala pikiran dikepala, berbagi cerita, keluh kesah, dan berbagi motto hidup. Percakapan seperti inilah yang akan selalu membekas, karena ada 2 orang manusia yang sedang meleburkan ego masing – masing untuk menjadikan satu frekuensi.  Kami melakukan hal – hal selayaknya anak muda yang pacaran seperti makan bareng, jalan bareng, dan...

Perjuangan Orang Tua

Tak cukup hanya selembar kertas untuk menceritakan perjuangan orang tua kita. Rasanya selalu haru ketika mengingat kebaikan mereka kepada anaknya. Memang benar kasihnya sepanjang masa. Ibu dan Bapak tidak bisa dibandingkan. Ibu adalah seseorang yang mencintai kamu sampai kamu menutup mata. Bapak adalah seseorang yang mencintai kamu tanpa ekspresi di wajahnya. Ibu menjaga kamu agar tidak jatuh, sedangkan bapak menjaga kamu untuk bangkit setelah terjatuh. Aku selalu terharu ketika diantarkan ke terminal, bersalaman dan ditunggu sampai bus yang aku tumpangi berangkat. Ditengah kesibukannya, bapak selalu menyempatkan untuk mengantarkanku. Ibu selalu menyiapkan oleh – oleh untuk ku bawa balik rantau. Rasanya sedih ketika ingat usia mereka sudah semakin tua, namun apa yang sudah aku berikan kepadanya? Aku jarang pulang ke rumah, hanya bertanya kabar melalui telepon dan whatsapp. Aku tahu bahwa Bapak dan Ibu sering merindukanku. Namun mereka jarang mengatakannya. Semakin kesini, bapak d...

Baru Kali Ini

Tahun ini tahun politik. Dipertengahan Ramadhan bulan Mei, teman hidupku ditugaskan untuk ke Jakarta perihal pengamanan pemilu. Banyak hal yang terjadi di ibukota. Puncaknya terjadi tanggal 22 Mei 2019. Demo besar – besaran karena banyak yang tidak setuju dengan hasil pemilu. Aku tahu teman hidupku sedang berjuang disana. Menjalankan tugas sesuai hukum yang berlaku. Aku tak ingin membela dan menyalahkan pihak lain. Aku hanya berharap semoga kejadian ini cepat selesai, tidak ada korban jiwa, dan yang terpenting semoga teman hidupku selalu dalam lindunganNya. Saat itu rasanya kesabaran dan kepercayaan diuji jadi satu. Awalnya aku biasa saja, mencoba tidak panik setelah update berita di media. Kami tidak bisa saling berkabar melalui whatsapp karena saat itu memang sosial media lagi down untuk menghindari berita hoax menyebar. Saat waktu buka puasa tiba, kami berkabar melalui sms. Alhamdulillah kami bisa telpon sebentar dan tiba – tiba terdengar suara serangan massa kembali. Akhirnya te...

Ramadhan Tahun Ini Terasa Berbeda

Alhamdulillah bertemu dengan bulan yang suci lagi yaitu Bulan Ramadhan. Tahun ini aku menjalani bulan ramadhan pertama di Kota Malang. Kotanya sejuk sehingga jarang sekali kita merasa haus saat puasa. Ramadhan disini sungguh sangat menyenangkan. Disepanjang jalan pulang ke kost, banyak sekali penjual takjil makanan dan minuman yang begitu beragam dan murah – murah. Tidak menjadi kesulitan anak kost untuk mencari makan saat berbuka dan sahur. Seperti ramadhan tahun lalu, aku selalu shalat tarawih dengan temen – temen kost. Ibu kost ku sekarang sangat perhatian, setiap sahur selalu dibuatkan teh hangat. Terima kasih, bu. Ada yang berbeda di ramadhan tahun ini. Aku menjalaninya denganmu, teman hidupku. Ya meskipun tetap jarak jauh. Kami saling membangunkan ketika sahur, bahkan sebelum sahur untuk sholat malam. Kami selalu bertanya sudah buka puasa atau belum dan pake menu apa. Sederhana sih tapi bikin berkesan. Momen ini yang akan selalu diingat ketika nanti sudah idul fitri. Tidak ...